BAGIAN I
BEFORE THE DARKNESS
Setiap orang memiliki masa lalu. Tidak semua orang berhasil meninggalkannya.
PROLOG
Sebuah Alasan
Ada orang yang memasuki dunia gelap karena menginginkan kekuasaan.
Ada yang mengejar kekayaan, nama besar, atau rasa takut dari orang-orang di sekitarnya.
Namun, Chen Elio memiliki alasan berbeda.
Ia pernah menjadi seorang anak yang percaya bahwa dunia selalu memberikan tempat bagi orang-orang baik. Ia tumbuh dengan ajaran kedua orang tuanya bahwa segala masalah dapat diselesaikan tanpa kekerasan.
Sayangnya, kehidupan tidak selalu mengikuti apa yang diajarkan kepadanya.
Ketika orang tuanya meninggal akibat konflik yang melibatkan orang-orang berpengaruh, Elio kehilangan sesuatu yang tidak mungkin dibeli dengan uang: kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Ia mencoba mencari keadilan, tetapi dunia seolah menutup semua pintu di hadapannya.
Kini, di usia dua puluh delapan tahun, Elio berdiri di persimpangan kehidupan.
Di satu sisi, ada kehidupan normal yang telah ia bangun bersama istrinya.
Di sisi lain, ada dunia yang dahulu tidak pernah ingin ia kenal.
Dan tanpa disadari, pilihannya akan mengubah kehidupan banyak orang.
BAB 1
Pertemuan yang Tidak Disengaja
Sepuluh tahun sebelumnya, Chen Elio dan Adul merupakan dua anak yang tidak bisa dipisahkan.
Mereka bertemu ketika berusia lima tahun di taman kanak-kanak. Elio adalah anak yang tenang, sedangkan Adul memiliki rasa ingin tahu yang terkadang membuatnya terlibat masalah.
Namun, perbedaan tersebut justru membuat mereka cocok.
"Elio, nanti kalau kita besar, kamu mau jadi apa?" tanya Adul suatu sore.
Elio berpikir sebentar.
"Belum tahu."
"Kalau aku mau jadi orang kaya."
"Kenapa?"
"Supaya bisa beli apa saja."
Elio tertawa kecil.
"Kalau begitu, jangan lupa traktir aku."
"Tenang. Kamu sahabatku."
Percakapan sederhana itu menjadi salah satu kenangan yang akan terus mereka ingat.
Mereka tidak tahu bahwa suatu hari nanti, kehidupan akan membawa mereka ke jalan yang berbeda.
BAB 2
Rumah Kedua
Ketika Adul berusia dua belas tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia.
Kehilangan tersebut membuat kehidupannya berubah drastis. Ia tidak lagi memiliki tempat yang benar-benar terasa seperti rumah.
Melihat keadaan sahabatnya, keluarga Elio memutuskan menerima Adul sebagai bagian dari keluarga mereka.
Ayah Elio mengatakan bahwa rumah tidak selalu ditentukan oleh hubungan darah.
Sejak saat itu, Adul tinggal bersama keluarga Elio.
Ia makan bersama mereka, belajar bersama Elio, dan perlahan kembali menemukan kebahagiaannya.
Namun, semakin dewasa, Adul mulai merasa tidak enak karena terus bergantung kepada keluarga sahabatnya.
Ketika berusia delapan belas tahun, ia memutuskan pergi.
"Aku akan membangun kehidupanku sendiri," katanya.
Elio tidak setuju, tetapi tidak memaksanya tinggal.
Sebelum berangkat, Adul berjanji akan kembali suatu hari nanti.
Sayangnya, janji itu membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk dipenuhi.
BAB 3
Kehidupan yang Dibangun
Tahun demi tahun berlalu.
Elio tumbuh menjadi pria dewasa yang mandiri. Ia bekerja keras, membangun karier, dan akhirnya bertemu dengan seorang wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
Wanita itu menjadi istrinya.
Pernikahan mereka berlangsung sederhana, tetapi penuh kebahagiaan.
Istrinya memahami bahwa Elio bukan pria yang banyak berbicara. Ia lebih sering menunjukkan perhatian melalui tindakan.
Suatu malam, istrinya bertanya ketika mereka sedang makan bersama.
"Kalau suatu hari kita punya rumah sendiri, kamu mau rumah seperti apa?"
Elio menjawab tanpa berpikir lama.
"Rumah yang tenang."
"Cuma itu?"
"Yang penting ada kamu di dalamnya."
Istrinya tertawa kecil.
Bagi Elio, kebahagiaan tidak harus terlihat mewah. Selama orang-orang yang dicintainya masih berada di dekatnya, ia merasa memiliki segalanya.
Namun, kehidupan yang dibangunnya perlahan mulai retak.
BAB 4
Orang-Orang Berkuasa
Masalah bermula ketika kedua orang tua Elio terlibat dalam sebuah persoalan yang berhubungan dengan orang-orang berpengaruh.
Awalnya, Elio menganggap masalah itu bisa diselesaikan melalui jalur hukum.
Ia mencari bantuan, berusaha mendapatkan perlindungan, dan mencoba menjauhkan kedua orang tuanya dari konflik tersebut.
Namun, semakin banyak ia mencari jawaban, semakin banyak pula pintu yang tertutup.
Orang-orang yang seharusnya membantu justru memilih diam.
Sementara pihak yang menjadi sumber persoalan seolah tidak tersentuh.
Elio mulai merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Ia tidak tahu bahwa keputusan orang-orang tersebut akan menjadi awal dari kehancuran keluarganya.
BAB 5
Hari Terakhir
Kabar itu datang ketika Elio sedang berada di luar rumah.
Kedua orang tuanya meninggal akibat konflik yang selama ini berusaha ia selesaikan.
Elio tidak langsung mampu menerima kenyataan tersebut.
Ia berdiri lama di hadapan makam mereka.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Istrinya berada di sampingnya, menggenggam tangannya erat.
"Sayang, kita pulang dulu, ya."
Elio tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, istrinya melihat pria yang selama ini selalu terlihat kuat kehilangan arah sepenuhnya.
Malam itu, Elio duduk sendirian di ruang tamu.
Di hadapannya terdapat sebuah foto keluarga.
Ia menatap foto tersebut cukup lama.
"Aku sudah mencoba melakukan semuanya dengan benar, Ayah. Ibu..."
Suaranya terhenti.
Ia tidak pernah membayangkan akan kehilangan keduanya dalam waktu yang hampir bersamaan.
Dan sejak hari itu, rumah yang dahulu menjadi tempat paling nyaman baginya berubah menjadi tempat yang penuh kenangan.
BAGIAN II
ENTER THE UNDERWORLD
Ketika kepercayaan hilang, seseorang mulai mencari tempat untuk berdiri.
BAB 6
Pilihan yang Tidak Pernah Diinginkan
Setelah pemakaman, Elio mulai mencari tahu lebih banyak tentang orang-orang yang terlibat dalam persoalan keluarganya.
Ia tidak ingin sekadar menerima cerita dari orang lain.
Ia ingin mengetahui kenyataan.
Pencariannya membawanya bertemu dengan beberapa orang yang mengenal dunia gelap.
Mereka memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kekuasaan, kepercayaan, dan hubungan antarmanusia.
Elio awalnya hanya mendengarkan.
Namun, semakin lama ia menyadari bahwa dunia tersebut memiliki pengaruh yang jauh lebih luas daripada yang ia kira.
Ia mulai mengenal seseorang bernama Victor, seorang pria yang memiliki hubungan dengan berbagai kelompok berpengaruh.
"Kenapa kamu tertarik dengan dunia seperti ini?" tanya Victor.
Elio menjawab tenang.
"Aku tidak tertarik. Aku hanya tidak ingin kembali menjadi orang yang tidak bisa melindungi keluarganya."
Victor memperhatikannya.
"Kalimat seperti itu sering menjadi awal dari perjalanan yang panjang."
Elio tidak menjawab.
Ia tahu dirinya sedang memasuki sesuatu yang tidak mudah ditinggalkan.
BAB 7
Pertemuan Setelah Sepuluh Tahun
Suatu malam, Elio menghadiri sebuah pertemuan tertutup.
Ia datang bersama Victor untuk mengenal beberapa orang yang memiliki hubungan dengan lingkungan tersebut.
Ketika memasuki ruangan, pandangannya berhenti pada seorang pria yang sedang berbicara dengan beberapa orang lainnya.
Wajah itu terasa familier.
Pria tersebut menoleh.
Keduanya saling menatap.
"Elio?"
Elio terdiam.
"Adul?"
Suasana seketika berubah.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu.
Adul kini bukan lagi anak laki-laki yang dahulu meninggalkan rumah keluarga Elio. Ia telah menjadi pria dewasa yang terbiasa menghadapi kehidupan keras.
Mereka berjabat tangan sebelum akhirnya saling berpelukan.
"Sudah lama sekali," kata Adul.
Elio tersenyum tipis.
"Sepuluh tahun."
Adul menatap sahabat lamanya.
"Apa yang membawa kamu ke tempat seperti ini?"
Elio menjawab singkat.
"Keadaan."
Adul memahami bahwa ada sesuatu yang tidak sederhana di balik jawaban tersebut.
Malam itu, dua sahabat lama kembali dipertemukan.
Namun, kali ini mereka tidak lagi berada di halaman sekolah.
Mereka bertemu di dunia yang sama-sama menyimpan banyak rahasia.
BAB 8
Dua Jalan yang Berbeda
Pertemuan dengan Adul membuka kembali banyak kenangan.
Keduanya mulai menghabiskan waktu bersama dan menceritakan kehidupan masing-masing.
Adul mengetahui kematian kedua orang tua Elio.
Ia terdiam cukup lama.
"Kenapa kamu nggak pernah menghubungi aku?"
Elio menatapnya.
"Aku bahkan nggak tahu kamu ada di mana."
Adul menunduk.
"Aku seharusnya pulang."
"Kamu punya kehidupan sendiri, Dul."
"Tapi keluargamu juga keluargaku."
Kalimat itu membuat Elio terdiam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bahwa seseorang dari masa lalunya masih mengingat keluarganya seperti dahulu.
Namun, mereka menyadari satu hal.
Adul sudah terlalu lama berada di dunia tersebut, sementara Elio baru memulai perjalanannya.
Adul memahami bahwa Elio belum sepenuhnya mengenal risiko dari pilihan yang diambilnya.
Karena itu, ia mulai berusaha memastikan sahabatnya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi.
BAB 9
Rahasia yang Disimpan
Kehidupan Elio mulai berubah.
Ia lebih sering pulang terlambat, menerima panggilan telepon yang tidak biasa, dan menghabiskan banyak waktu di luar rumah.
Istrinya mulai menyadari perubahan tersebut.
Suatu malam, ketika Elio baru pulang, istrinya sudah menunggunya.
"Kamu dari mana?"
"Urusan pekerjaan."
"Belakangan ini selalu begitu."
Elio meletakkan barang-barangnya.
"Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan."
Istrinya menatapnya.
"Aku istrimu, Elio. Aku bukan orang asing."
Elio terdiam.
Ia ingin menjelaskan semuanya, tetapi masih takut bahwa keterlibatan istrinya justru akan membahayakannya.
"Aku cuma nggak mau kamu ikut terbebani."
"Justru karena kamu selalu menyimpan semuanya sendiri, aku jadi khawatir."
Percakapan itu berakhir tanpa jawaban yang benar-benar memuaskan.
Elio mulai memahami bahwa menjaga seseorang tidak selalu berarti menjauhkannya dari kenyataan.
BAB 10
Keluarga yang Mengetahui Segalanya
Rahasia yang selama ini disimpan Elio akhirnya terbuka.
Istrinya mengetahui bahwa suaminya mulai memiliki hubungan dengan lingkungan mafia.
Ia terkejut, kecewa, sekaligus takut.
Namun, ia memilih mendengarkan penjelasan Elio terlebih dahulu.
Beberapa hari kemudian, kakak perempuan istrinya juga mengetahui keadaan tersebut.
Ia dikenal sebagai wanita yang tegas dan tidak mudah menerima keputusan tanpa alasan.
"Jadi, kamu sekarang benar-benar masuk ke dunia itu?" tanyanya kepada Elio.
Elio mengangguk.
"Aku tahu risikonya."
"Masalahnya bukan cuma kamu. Adikku juga akan ikut menanggung akibatnya."
Elio tidak membantah.
Kakak iparnya kemudian berbicara dengan adiknya.
Mereka memutuskan untuk tidak membiarkan Elio menghadapi semuanya sendirian.
Bukan karena mereka menganggap dunia tersebut benar, tetapi karena mereka ingin memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menjaga diri serta keluarga.
Elio akhirnya menyadari bahwa dirinya tidak lagi berjalan sendirian.
Namun, ia juga harus belajar bertanggung jawab atas pilihan yang melibatkan orang lain.
BAGIAN III
THE FALL
Tidak semua kehilangan datang ketika seseorang sedang lemah. Terkadang, semuanya datang ketika ia merasa sudah memiliki segalanya.
BAB 11
Lingkaran Kepercayaan
Elio mulai membangun lingkaran kecil yang terdiri dari orang-orang yang ia percaya.
Adul menjadi salah satu orang terdekatnya.
Victor tetap menjadi penghubung yang memperkenalkannya kepada lingkungan tersebut.
Sementara istrinya dan kakak iparnya mulai memahami bagaimana kehidupan Elio berubah.
Untuk pertama kalinya, mereka memiliki tujuan yang sama: menjaga keluarga mereka tetap utuh.
Namun, ada satu orang yang mulai memperhatikan perkembangan Elio.
Namanya Darius.
Darius merupakan pria berpengaruh yang memiliki hubungan dengan konflik lama keluarga Elio.
Ia mengetahui bahwa putra dari keluarga yang dahulu pernah menjadi persoalan kini mulai memasuki lingkungan yang sama.
Darius tidak menganggap Elio sebagai ancaman besar.
Baginya, Elio hanyalah seseorang yang sedang mencari jawaban.
Namun, ia tahu bahwa masa lalu terkadang dapat menciptakan masalah yang tidak terduga.
BAB 12
Nama yang Tidak Seharusnya Muncul
Adul menemukan sebuah informasi yang membuatnya curiga.
Nama Darius ternyata pernah muncul dalam beberapa catatan lama yang berkaitan dengan persoalan keluarga Elio.
Ia mencoba memastikan informasi tersebut sebelum memberitahu sahabatnya.
Namun, ketika akhirnya mereka bertemu, Elio sudah lebih dahulu mengetahui nama tersebut.
"Darius?" tanya Elio.
Adul mengangguk.
"Dia bukan orang yang bisa kamu anggap remeh."
Elio menatap dokumen di hadapannya.
"Jadi, dia memang terlibat?"
"Kita belum punya semua jawabannya."
Elio menghela napas.
"Aku sudah menunggu terlalu lama untuk mengetahui kebenaran."
Adul menatap sahabatnya dengan serius.
"Jangan sampai keinginanmu mendapatkan jawaban membuat kamu kehilangan sesuatu yang masih kamu punya."
Elio memahami maksudnya.
Namun, jauh di dalam dirinya, ia merasa semakin sulit untuk berhenti.
BAB 13
Retakan Pertama
Kesibukan Elio mulai memengaruhi hubungannya dengan sang istri.
Mereka semakin jarang menghabiskan waktu bersama.
Bahkan, beberapa rencana sederhana yang dahulu selalu mereka lakukan kini sering dibatalkan.
Istrinya mencoba memahami.
Namun, memahami tidak berarti tidak merasa terluka.
Pada suatu malam, ia berkata,
"Aku nggak minta kamu berhenti menjadi dirimu sendiri. Aku cuma ingin kamu ingat kalau masih ada seseorang yang menunggu kamu pulang."
Elio menatapnya.
"Aku melakukan semua ini juga untuk keluarga kita."
"Tapi kapan terakhir kali kamu benar-benar hadir untuk keluarga kita?"
Pertanyaan tersebut membuat Elio terdiam.
Ia ingin menjawab, tetapi tidak menemukan kata-kata yang tepat.
Malam itu, mereka tidur tanpa banyak percakapan.
Retakan kecil mulai muncul dalam rumah tangga yang dahulu terasa begitu tenang.
BAB 14
Pengkhianatan
Victor, orang yang selama ini menjadi salah satu penghubung Elio, ternyata menyimpan kepentingan sendiri.
Ia telah menjalin hubungan dengan pihak Darius sejak awal.
Informasi mengenai pergerakan dan keputusan Elio perlahan sampai kepada orang yang salah.
Adul mulai mencurigai sesuatu.
Namun, ia belum memiliki bukti yang cukup.
Sementara itu, Elio semakin sibuk menghadapi persoalan yang terus bermunculan.
Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa beberapa informasi yang hanya diketahui oleh lingkaran kecilnya telah tersebar.
Ia mulai mempertanyakan semua orang.
Termasuk mereka yang selama ini ia percaya.
BAB 15
Malam Kehancuran
Semua masalah datang hampir bersamaan.
Sebuah pertemuan penting gagal menghasilkan kesepakatan.
Beberapa hubungan yang telah dibangun Elio mulai terputus.
Nama Elio mulai menjadi bahan pembicaraan di lingkungan yang sebelumnya menerimanya.
Di saat yang sama, istrinya menerima kabar bahwa suaminya sedang menghadapi masalah besar.
Ketika Elio pulang, ia mendapati istrinya sedang duduk di ruang tamu.
"Aku sudah dengar semuanya," katanya.
Elio meletakkan jaketnya.
"Aku bisa jelaskan."
"Aku capek, Elio."
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada yang Elio bayangkan.
Istrinya melanjutkan,
"Aku selalu mencoba memahami kamu. Aku selalu berusaha percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi sekarang aku bahkan nggak tahu apakah rumah ini masih menjadi tempat yang aman untuk kita."
Elio tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa keputusannya tidak hanya membawa masalah bagi dirinya.
Ia juga telah membuat orang yang dicintainya ikut menanggung beban.
BAB 16
Titik Terendah
Kehidupan Elio mencapai titik paling rendah.
Ia kehilangan kepercayaan dari beberapa orang yang dahulu mendukungnya.
Hubungannya dengan Adul sempat memburuk karena perbedaan keputusan.
Sementara istrinya memilih tinggal sementara bersama kakaknya untuk menenangkan diri.
Tidak ada lagi percakapan hangat setiap malam.
Tidak ada lagi seseorang yang menunggunya pulang.
Rumah yang dahulu menjadi alasan Elio terus berjuang kini terasa begitu kosong.
Suatu malam, Elio duduk sendirian di ruang kerjanya.
Ia membuka sebuah foto lama.
Foto dirinya bersama kedua orang tuanya dan Adul.
"Apa sebenarnya yang sudah aku lakukan?"
Ia menyandarkan tubuhnya.
Selama ini, ia mengira bahwa semakin besar kekuatan yang dimiliki, semakin mudah ia melindungi keluarganya.
Namun, sekarang ia justru hampir kehilangan keluarga yang masih tersisa.
Elio menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus melangkah ke mana.
BAB 17
Perpisahan Sementara
Istrinya tidak pergi karena berhenti mencintai Elio.
Ia pergi karena membutuhkan waktu untuk memahami kehidupan yang kini mereka jalani.
Ketika Elio datang menemui istrinya, kakak iparnya menyambutnya dengan sikap dingin.
"Adikku butuh waktu."
"Aku cuma ingin bicara dengannya."
"Kalau begitu, dengarkan dia. Jangan selalu datang dengan membawa keputusanmu sendiri."
Elio akhirnya bertemu dengan istrinya.
Mereka duduk berhadapan.
"Aku nggak tahu harus mulai dari mana," kata Elio.
Istrinya menatapnya.
"Mulai dengan jujur."
Elio terdiam cukup lama sebelum akhirnya menceritakan semuanya.
Tentang kematian kedua orang tuanya.
Tentang rasa bersalah yang terus ia bawa.
Tentang ketakutannya kehilangan keluarga untuk kedua kalinya.
Istrinya mendengarkan tanpa memotong.
"Aku tahu kamu terluka," katanya pelan. "Tapi aku juga terluka, Elio. Aku ingin menjadi istrimu, bukan seseorang yang selalu harus menebak apa yang sedang terjadi."
Elio menunduk.
"Aku minta maaf."
Hari itu mereka belum kembali bersama.
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka mulai berbicara dengan jujur.
BAB 18
Sahabat yang Kembali Menemukan Jalan
Adul akhirnya datang menemui Elio.
Ia menemukan sahabatnya sedang duduk sendirian.
"Kamu kelihatan berantakan."
Elio tertawa hambar.
"Terima kasih atas penilaiannya."
Adul duduk di sampingnya.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Kemudian Adul berkata,
"Sepuluh tahun lalu, aku pergi karena merasa menjadi beban keluargamu."
Elio menoleh.
"Kenapa tiba-tiba membahas itu?"
"Karena sekarang aku melihat kamu melakukan hal yang sama. Kamu terus merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian."
Elio tidak menjawab.
Adul melanjutkan,
"Kamu pernah menerima aku sebagai keluarga ketika aku kehilangan semuanya. Sekarang, izinkan aku melakukan hal yang sama."
Elio memandang sahabat lamanya.
"Kalau keadaan berbalik, aku juga akan melakukan hal yang sama untukmu."
Adul tersenyum kecil.
"Makanya jangan bertingkah seolah kamu sendirian."
Malam itu, persahabatan mereka kembali menemukan tempatnya.
Tidak semua masalah selesai.
Namun, Elio mulai memiliki alasan untuk berdiri lagi.
BAGIAN IV
THE RISE
Bangkit bukan berarti kembali menjadi orang yang sama. Terkadang, bangkit berarti menjadi seseorang yang lebih bijaksana.
BAB 19
Awal yang Berbeda
Elio mulai menyadari kesalahannya.
Ia terlalu sibuk mencari kekuatan sampai lupa bahwa kekuatan terbesar yang dimilikinya selama ini adalah kepercayaan orang-orang terdekatnya.
Ia memutuskan untuk berhenti mengambil keputusan berdasarkan kemarahan.
Bersama Adul, ia mulai menata kembali kehidupannya.
Mereka mengevaluasi hubungan yang masih bisa dipercaya dan menjauh dari pihak-pihak yang telah terbukti menyalahgunakan kepercayaan.
Elio juga mulai memperbaiki hubungannya dengan istrinya.
Ia tidak memaksanya untuk langsung kembali.
Ia hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya benar-benar berubah.
Kali ini, Elio tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa ia tepati.
Ia ingin membuktikannya.
BAB 20
Kembali ke Rumah
Beberapa minggu berlalu.
Elio datang menemui istrinya.
Tidak ada hadiah mahal atau kata-kata berlebihan.
Ia hanya membawa makanan yang dahulu sering mereka beli bersama.
Istrinya membuka pintu.
"Kamu datang."
Elio mengangguk.
"Aku nggak mau mengganggu. Aku cuma ingin t
BAB 31
Surat Tanpa Nama
Sudah hampir satu tahun sejak kehidupan Chen Elio kembali tenang.
Rumahnya kini lebih sering dipenuhi suara percakapan daripada kesunyian. Adul masih sering datang tanpa pemberitahuan, sementara kakak iparnya sesekali mengeluhkan kebiasaan Adul yang selalu menghabiskan makanan di rumah mereka.
Bagi Elio, semua itu adalah hal-hal kecil yang dahulu sempat ia pikir tidak akan pernah bisa ia nikmati lagi.
Pagi itu, Elio sedang duduk di ruang makan bersama istrinya.
"Kamu hari ini ada pekerjaan?" tanya istrinya.
"Ada beberapa urusan. Mungkin pulang agak sore."
"Jangan lupa makan."
Elio mengangguk.
Belum sempat mereka melanjutkan percakapan, bel rumah berbunyi.
Seorang petugas pengiriman berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah amplop berwarna hitam.
"Untuk Tuan Chen Elio."
Elio menerima amplop tersebut.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya terdapat tulisan kecil di bagian depan.
FOR CHEN ELIO. PERSONAL.
Elio membuka amplop itu setelah petugas pergi.
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.
Foto tersebut memperlihatkan ayahnya sedang berdiri bersama seorang pria yang tidak pernah Elio kenal.
Di bagian belakang foto terdapat tulisan:
You don't know everything about your father.
Elio membaca kalimat tersebut beberapa kali.
Istrinya mendekat.
"Ada apa?"
Elio segera meletakkan foto itu di atas meja.
"Sepertinya ada seseorang yang belum selesai dengan masa lalu."
"Siapa?"
Elio menatap foto tersebut.
"Aku belum tahu."
Namun, satu hal mulai mengganggu pikirannya.
Bagaimana mungkin seseorang memiliki foto lama ayahnya yang bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya?
BAB 32
Nama yang Tersembunyi
Elio membawa foto tersebut kepada Adul.
Mereka bertemu di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai.
Adul memperhatikan foto itu cukup lama.
"Kamu pernah melihat pria ini?" tanya Elio.
Adul menggeleng.
"Tidak. Tapi tempat ini sepertinya bukan lokasi biasa."
"Kenapa?"
"Lihat latar belakangnya."
Elio memperhatikan bagian belakang foto.
Terdapat sebuah bangunan tua dengan papan nama yang sudah hampir tidak terbaca.
Adul kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Aku punya kenalan yang mungkin bisa membantu mengenali tempat ini."
Elio mengangguk.
Namun, sebelum Adul menghubungi seseorang, ia kembali melihat foto tersebut.
"Elio."
"Hm?"
"Ada kemungkinan ayahmu menyimpan sesuatu yang belum pernah kamu ketahui."
Elio menyandarkan tubuhnya.
"Aku mulai berpikir begitu."
Sementara itu, di tempat berbeda, seorang pria sedang duduk di dalam ruangan dengan pencahayaan redup.
Ia menerima sebuah panggilan telepon.
"Amplopnya sudah sampai?"
"Sudah."
"Bagus. Sekarang kita lihat bagaimana reaksi Chen Elio."
Pria tersebut menutup telepon.
Namanya adalah Adrian.
Dan ia mengetahui sesuatu tentang keluarga Chen yang selama ini tidak pernah diketahui Elio.
BAB 33
Wanita dari Masa Lalu
Beberapa hari kemudian, Elio mendapatkan informasi mengenai pria dalam foto tersebut.
Namanya adalah Han Wei.
Ia merupakan rekan lama ayah Elio yang sudah lama tidak terlihat.
Menurut informasi yang didapatkan Adul, Han Wei pernah memiliki hubungan bisnis dengan keluarga Chen.
Namun, hubungan tersebut berakhir secara tiba-tiba.
Elio memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh.
Sementara itu, istrinya mulai menyadari bahwa Elio kembali sering memikirkan sesuatu.
"Kamu akhir-akhir ini banyak diam," katanya suatu malam.
Elio menoleh.
"Ada sesuatu tentang Ayah yang belum aku ketahui."
Istrinya duduk di sampingnya.
"Apakah itu sesuatu yang buruk?"
"Aku belum tahu."
"Kalau begitu, jangan langsung mengambil kesimpulan."
Elio tersenyum kecil.
"Kamu selalu bisa mengatakan sesuatu yang sederhana, tapi membuatku berpikir."
Istrinya tertawa.
Namun, suasana berubah ketika ponsel Elio berdering.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Ask your wife about the woman named Clara.
Elio membaca pesan tersebut.
Ia mengerutkan kening.
Clara.
Nama itu tidak pernah ia dengar sebelumnya.
Dan entah mengapa, pesan tersebut membuatnya mulai bertanya-tanya apakah persoalan ini benar-benar hanya berkaitan dengan ayahnya.
BAB 34
Rahasia yang Tidak Disengaja
Elio akhirnya menceritakan pesan tersebut kepada istrinya.
Namun, ketika mendengar nama Clara, istrinya terlihat sedikit terkejut.
"Kamu tahu nama itu?" tanya Elio.
Istrinya terdiam.
"Aku pernah mendengarnya dari kakakku."
"Kapan?"
"Beberapa tahun lalu. Tapi aku nggak tahu banyak."
Elio memperhatikan ekspresinya.
"Kenapa kamu nggak pernah cerita?"
"Karena waktu itu aku menganggapnya bukan sesuatu yang penting."
Elio tidak memaksanya menjelaskan lebih jauh.
Keesokan harinya, istrinya menemui kakak perempuannya.
"Kak, kamu masih ingat Clara?"
Kakaknya terdiam.
"Kenapa kamu menanyakan dia?"
"Elio baru menerima pesan tentang nama itu."
Kakaknya menghela napas.
"Sepertinya sudah waktunya kalian tahu."
Ternyata Clara merupakan seorang wanita yang dahulu pernah bekerja bersama keluarga besar mereka.
Ia mengetahui beberapa rahasia lama yang berkaitan dengan hubungan keluarga Chen dan keluarga istri Elio.
Namun, sebelum sempat menjelaskan lebih jauh, Clara menghilang.
Dan tidak seorang pun mengetahui keberadaannya sekarang.
BAB 35
Kembali ke Masa Lalu
Elio merasa semakin banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Ia mulai menyadari bahwa persoalan keluarganya mungkin memiliki hubungan dengan keluarga istrinya.
Hal tersebut membuatnya tidak nyaman.
Ia tidak ingin istrinya kembali terlibat dalam masalah yang sama.
Namun, kali ini istrinya tidak setuju jika harus dijauhkan dari semuanya.
"Aku tahu kamu ingin melindungiku," katanya.
Elio menatapnya.
"Tapi aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Ini bukan masalah sederhana."
"Aku tahu. Tapi aku juga bagian dari keluarga ini."
Elio terdiam.
Ia mengingat kembali kesalahan yang hampir menghancurkan rumah tangganya.
Dahulu, ia terlalu sering memutuskan sesuatu tanpa melibatkan istrinya.
Kali ini, ia tidak ingin mengulanginya.
"Baik. Kita cari tahu bersama."
Istrinya tersenyum kecil.
"Terima kasih sudah mau mendengarkan."
Elio menggenggam tangannya.
Mereka mungkin tidak mengetahui apa yang sedang menunggu di depan.
Namun, setidaknya kali ini mereka berjalan bersama.
BAB 36
Adul dan Masa Lalunya
Di tengah pencarian tersebut, Adul menerima sebuah panggilan dari seseorang yang sudah lama tidak ia hubungi.
Suara di seberang telepon terdengar cukup familiar.
"Sudah lama, Dul."
Adul terdiam.
"Siapa ini?"
"Kamu benar-benar sudah lupa?"
Adul mengenali suara tersebut.
Orang itu adalah seseorang dari masa awal kehidupannya di dunia gangster.
Namanya Raka.
Dahulu, Raka pernah menjadi orang yang cukup dekat dengan Adul.
Namun, hubungan mereka berakhir setelah sebuah persoalan yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
"Apa maumu?" tanya Adul.
"Aku hanya ingin bertemu."
"Aku tidak punya urusan denganmu."
"Sayang sekali. Aku punya sesuatu yang mungkin ingin kamu ketahui tentang teman lamamu."
Adul mengerutkan kening.
"Elio?"
Raka tertawa kecil.
"Sepertinya kamu masih peduli padanya."
Panggilan terputus.
Adul duduk cukup lama setelah itu.
Ia tahu bahwa masa lalunya sendiri mulai muncul kembali.
Dan kali ini, ia tidak bisa membiarkan masalah tersebut mengganggu kehidupan Elio tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
BAB 37
Di Antara Dua Sahabat
Adul akhirnya menceritakan panggilan tersebut kepada Elio.
Elio tidak langsung memberikan tanggapan.
"Raka itu siapa?"
"Orang dari masa laluku."
"Apakah dia berbahaya?"
"Aku tidak tahu apa yang dia inginkan sekarang."
Elio menatap sahabatnya.
"Kalau ada masalah, jangan sembunyikan dariku."
Adul tersenyum tipis.
"Kamu sekarang malah jadi orang yang suka mengingatkan."
"Karena aku sudah tahu rasanya kehilangan orang yang seharusnya bisa diajak bicara."
Adul terdiam.
Ia memahami maksud sahabatnya.
Selama bertahun-tahun, mereka sudah melewati banyak hal.
Keduanya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Namun, Raka bukan satu-satunya orang yang memiliki rahasia.
Adul sendiri masih menyimpan sesuatu yang belum pernah ia ceritakan kepada Elio.
Sebuah keputusan dari masa lalunya yang mungkin akan mengubah pandangan Elio terhadap dirinya.
BAB 38
Malam yang Berbeda
Hubungan Elio dan istrinya semakin membaik.
Mereka mulai kembali melakukan hal-hal sederhana seperti dahulu.
Pada suatu malam, Elio mengajak istrinya makan malam di tempat pertama kali mereka bertemu.
Istrinya tersenyum ketika menyadari lokasi tersebut.
"Kamu masih ingat?"
"Tentu."
"Aku pikir kamu sudah lupa."
Elio menggeleng.
"Aku mungkin sering lupa hal kecil, tapi bukan tentang kamu."
Istrinya tertawa.
Malam itu berjalan dengan tenang.
Namun, ketika mereka hendak pulang, Elio menerima panggilan dari Adul.
"Elio, kamu harus datang."
"Ada apa?"
"Aku menemukan sesuatu tentang Raka."
Elio menatap istrinya.
Istrinya memahami bahwa ada persoalan yang kembali muncul.
"Pergilah. Aku bisa pulang bersama kakak."
Elio mengangguk.
Sebelum pergi, ia mencium kening istrinya.
"Aku akan menghubungimu."
Namun, malam itu menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mereka perkirakan.
BAB 39
Satu Kebenaran, Seribu Pertanyaan
Ketika Elio tiba, Adul sudah menunggunya.
Di atas meja terdapat beberapa dokumen lama.
"Ini tentang apa?" tanya Elio.
Adul menarik napas.
"Raka pernah bekerja dengan seseorang yang memiliki hubungan dengan ayahmu."
Elio menatap dokumen tersebut.
"Siapa?"
Adul menyebut sebuah nama.
Han Wei.
Elio terdiam.
Pria dalam foto itu.
Pria yang selama ini sedang mereka cari.
Adul melanjutkan.
"Sepertinya Raka tahu di mana Han Wei sekarang."
Elio menatap sahabatnya.
"Kenapa dia tidak langsung mengatakannya?"
"Karena dia menginginkan sesuatu."
"Apa?"
Adul menggeleng.
"Aku belum tahu."
Elio menutup dokumen tersebut.
Ia mulai menyadari bahwa pencarian ini bukan sekadar tentang masa lalu ayahnya.
Ada beberapa orang yang memiliki kepentingan masing-masing.
Dan mereka semua seolah sedang mengarahkan Elio menuju satu titik yang sama.
Sebelum Elio sempat mengatakan sesuatu, ponselnya berdering.
Sebuah pesan masuk.
Your father trusted the wrong person.
Elio membaca pesan tersebut.
Kali ini, ia tidak lagi merasa sekadar penasaran.
Ia mulai khawatir bahwa seluruh kehidupan yang selama ini ia kenal mungkin dibangun di atas sebuah rahasia besar.
BAB 40
The Next Chapter
Pagi berikutnya, Elio berdiri di depan jendela ruang kerjanya.
Ia memperhatikan kota yang mulai ramai.
Adul sedang duduk di sofa sambil membaca beberapa informasi baru.
Sementara istrinya datang membawa secangkir kopi.
"Kamu belum tidur?" tanyanya.
"Belum terlalu mengantuk."
Istrinya meletakkan kopi di atas meja.
"Jangan terlalu memaksakan diri."
Elio mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Adul memanggilnya.
"Elio, ada sesuatu."
Elio menoleh.
"Apa lagi?"
Adul menunjukkan sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan ayah Elio bersama Han Wei dan seorang pria lain.
Namun, kali ini Elio mengenali wajah pria ketiga tersebut.
Ia adalah seseorang yang selama ini masih memiliki hubungan dekat dengan keluarga mereka.
Elio tidak langsung berbicara.
Istrinya memperhatikan perubahan ekspresinya.
"Siapa orang itu?"
Elio menatap foto tersebut sekali lagi.
Kemudian ia menjawab pelan.
"Seseorang yang selama ini kita anggap keluarga."
Ruangan menjadi hening.
Adul menutup dokumen di hadapannya.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Namun, satu hal sudah jelas.
Kisah Chen Elio belum berakhir.
TO BE CONTINUED.